Tulisan ini sebenarnya sudah sangat lama diniatkan untuk ditulis. Tapi selalu ditahan-tahan karena pada dasarnya, ga suka juga untuk curhat di dunia Cyber (masih ada apa ya? yang pakai bahasa ini. xixixixixi).
Pernah lewatin atau rasain tol Tangerang baik yang mau ke Jakarta ataupun arah sebaliknya. Entah mulainya sejak kapan, tapi sepertinya 1 tahun terakhir, sering banget ada masalah di sini.
Ga tau juga apakah ada hubungannya atau tidak, tapi sepertinya "penderitaan" ini berawal dari pembangunan gerbang tol baru di daerah Bitung. Yang sampai hari ini, masih belum ada tanda-tanda sudah bisa digunakan.
Tapi ada atau tidaknya hubungannya, macet pas awal-awal itu mulai dirasakan ketika pembangunan fly-over baru dimulai. Kalau diperhatikan, penyebab sering macet saat itu karena arus lalu lintas utamanya bagi yang suka cruising pakai bahu jalan (jalur darurat), akan merasakan penyempitan karena bahu jalan sebagian dipakai untuk konstruksi.
Masalah cruising di bahu jalan ini, saya sebenarnya sudah muak untuk melihatnya, secara aturan tidak diperbolehkan, tapi jarang banget ada penindakan.
Macetnya itu karena terjadi bottleneck traffic dari arah Cikupa, bertemu dengan traffic dari arah Bitung. Bayangkan yang dari arah Cikupa sudah pakai bahu jalan yang tidak seberapa lebar itu, kemudian bertemu dengan traffic dari arah Bitung yang menyempit langsung.
Truk-truk overload pun banyak yang pakai jalan ini. Jadi karena macet, sudah pasti beban aspal pun bertambah, akibatnya berasa banget, jalur 1 dan 2 di sini lah yang awalnya berasa rusak.
Ketika jalur tersebut sudah rusak, macetnya pun bertambah, dan domino efeknya terjadi lagi. Truk harus berjalan extra pelan di sana, semakin menambah tingkat kemacetan. Aspal nya pun semakin lama semakin rusak, akhirnya banyak dari truk-truk tersebut yang nekat lewat jalur 3 bahkan 4, yang mengakibatkan jalur tersebut pun ikutan rusak.
Saya masih ingat ketika Covid dan pembatasan diberlakukan di tahun 2020 kemarin. Dari Cikupa ke Cengkareng hanya butuh waktu paling lama 40 menit. Dan kalau tidak ada kejadian apa-apa di tol ini, waktu tempuh paling lama di 1 jam 15 menit ketika sebelum Covid dan "New Normal" tapi sebelum ada pembangunan gerbang tol baru ini.
Setelah banyak kerusakan di jalan tol ini, 1 jam 30 menit itu sudah bisa terhitung jarak tercepat, tapi rata-rata butuh waktu 2 jam di rush hour untuk jarak tempuh yang sama. Dan bahkan bisa lebih lama lagi kalau misalnya tiba-tiba di tol ini banjir. Detik.com - 28 Juni 2025 | Detik.com - 7 Juli 2025
Agak lucu kalau diingat pas masih kecil dikasih tau kalau jalan tol itu jalan bebas hambatan. Sekarang malah jadi seperti tol itu sekedar Tax On Location, cuma bayar aja, tapi ga ada kepastian bakalan lancar sampai tujuan.
Hari ini, 21 Maret 2026, lebaran hari pertama. Ya, saya memang ga ikut mudik, tapi tadi siang itu lewat tol Tangerang buat ke apartment, terus lewat Tol Cijago buat ke Bogor. Tol Cijago ini ada ceritanya sendiri, tol yang lumayan mahal, tapi jalanannya beneran berasa bumpy banget, tapi ada kemajuan sebenernya, dimana beberapa ruas sudah dilapis aspal, jadi sudah mulai mulus, walaupun berasa masih jauh dari benar-benar bisa dibilang nyaman.
Di hari ini, Tol Tangerang yang dilewati, masih banyak berasa lubang. Beberapa lubang besar memang sudah mulai ditambal, tapi perbaikannya seperti hanya tambal sulam saja. Maksudnya, sekelas pengelola tol koq ga bisa bikin perbaikan seperti semula, masih berasa bumpy, dan beberapa titik masih ada lubang. Batas maksimal kecepatan tol di 80 km/jam, tapi dilewatin dengan speed minimal 60 km/jam juga masih berasa itu bumpynya.
Ok, kembali ke cerita, setelah masuk ke tol Jagorawi, terlihat bahwa di Jagorawi yang arah Jakarta terpantau padat cenderung macet. Agak aneh sebenarnya, karena di tahun-tahun lalu, H-1 Lebaran itu biasanya jalan tol nya kosong. Baru sadar setelah sampai rumah dan lihat Thread, ternyata ada banjir, sepertinya di area Cibubur.
Kalau jalan Tol itu gratis, sebenarnya bakalan terima-terima aja. Tapi masalahnya, ini masuk jalan Tol itu bayar. Bencana seperti banjir, seharusnya minimal di research supaya tidak sampai ganggu operasional Tol. Maksudnya itu, udah tau area sekitarnya rawan banjir, masa dibiarkan saja tanpa dipikirkan gimana solusinya supaya jalan tol ga sampai banjir, atau kalaupun banjir, gimana caranya supaya ga ganggu pengguna Tol.
Beberapa harapan untuk tol ke depannya:
- Patroli tol sebisa mungkin ditingkatkan, supaya sebisa mungkin minim pelanggaran seperti cruising di bahu jalan, truk ODOL, lane hogger, cruising di bawah speed minimum atau di atas speed maksimum.
- Jalan tol bisa semulus di masa lalu, ga bumpy, ga harus was-was ketemu lubang di jalan.
Mudah-mudahan bisa, dan harusnya sih bisa. Dan salah satunya saya coba terapkan di diri sendiri. Dengan cara mengharamkan bahu jalan serta cruising di jalur tengah, sementara lewat jalur paling kanan hanyak kalau mau overtake.